Tak banyak yang mau menginjakkan kaki di Tanjung Priuk. Stigma wilayah yang jauh, panas, dan ramainya truk kontainer menjadi hal yang jamak ada di pikiran kebanyakan orang.
Akan tetapi, Tanjung Priuk bagi warga setempat bukan seperti yang selalu ada di isi kepala kebanyakan orang. Ada banyak hal yang belum digali dari utara Jakarta ini.
Satu di antaranya adalah budaya nongkrong dan ngopi para anak muda Tanjung Priuk. Bukti nyata adalah menjamurnya kedai kopi di sekitaran wilayah pelabuhan ini.
Menjamurnya kedai kopi di Tanjung Priuk bukan hanya menciptakan lapangan kerja bagi para masyarakat di sekitar. Ada sektor lain yang ikut kecipratan dengan fenoma tersebut yakni band lokal pengisi malam sekaligus peneman nongkrong dari masyarakat Tanjung Priok.
Satu yang paling dikenal adalah Palingan Music Project (PMP). Dalam sepekan band akustik tersebut bisa berkeliling dari satu kedai ke kedai lain.
Bahkan meningkatnya permintaan membuat PMP harus memecah skuad karena jadwal manggung yang mepet. Hal ini sangat disyukuri karena para pemusik yang notabene “warga lokal” bisa berkarya dan mendapat penghasilan di lingkungan tempat mereka tinggal.