BPJS Kesehatan: Peserta Jaminan Kesehatan Nasional Mengalami Kenaikan yang Signifikan
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menjelaskan capaian peningkatan peserta JKN yang s
Industri kecantikan global maupun nasional memasuki fase baru pada 2026, hal ini ditandai dengan pergeseran fokus dari tren viral yang bersifat sesaat menuju formulasi berbasis riset ilmiah yang teruji. Perubahan arah ini dinilai sejumlah dermatolog sebagai koreksi penting setelah bertahun-tahun pasar dibanjiri klaim bahan-bahan sensasional tanpa bukti ilmiah memadai.
Melansir dari Kompas.com Dermatolog bersertifikat di Boston, dr. Uchenna Okereke, menyebut bahwa sains sangat unggul di kategori skincare ditahun 2026. Kandungan retinol dan vitamin C tetap menjadi bahan andalan, namun kini hadir dalam karakter yang lebih halus, stabil, dan minim risiko iritasi berkat teknologi penghantaran bahan aktif yang lebih canggih ke dalam kulit.
Tren ini diproyeksikan akan mendominasi ditahun ini seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap efektivitas jangka panjang, bukan sekadar hasil instan. Fenomena ini terlihat jelas di pasar skincare Indonesia, di mana konsumen mulai meninggalkan rutinitas rumit tujuh hingga sepuluh langkah menuju pendekatan yang lebih sederhana namun tetap efektif, dikenal dengan istilah skinimalism.
Pola belanja konsumen skincare kini lebih rasional, mereka tak lagi sekadar mencari produk yang ramai diperbincangkan di media sosial, melainkan produk yang benar-benar terasa manfaatnya dalam pemakaian rutin.
Isu keamanan bahan tabir surya turut menjadi sorotan setelah berbagai kontroversi kandungan sunscreen mencuat pada tahun-tahun sebelumnya, mendorong konsumen menuntut transparansi bahan yang lebih tinggi dari produsen.
Fenemomena ini membuat sejumlah brand skincare lokal mulai mengadopsi formula yang lebih sederhana dan transparan sebagai strategi menjawab kebutuhan pasar yang kian selektif, sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri di tengah gempuran produk skincare asal Korea dan negara lain.