Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Tren Slow Jogging Makin Digemari, Ini Manfaat dan Cara Melakukannya yang Tepat

 

Olahraga lari santai atau yang dikenal dengan istilah slow jogging tengah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya sejak ramai dibicarakan di media sosial belakangan ini. Berbeda dengan jogging pada umumnya yang mengejar kecepatan atau jarak tempuh, slow jogging dilakukan dengan ritme yang jauh lebih santai, yakni sekitar 3 hingga 5 kilometer per jam atau hampir menyerupai kecepatan jalan cepat.

Menariknya, olahraga ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Contohnya seperti Komunitas Slow Jogging Indonesia (SJI) telah berdiri sejak akhir 2017 di Yogyakarta sebelum akhirnya melebarkan aktivitasnya ke Jakarta, salah satunya di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.

Dikutip dari detik.com pengurus komunitas tersebut mengatakan slow jogging pada awalnya banyak diminati oleh mereka yang ingin belajar berlari namun kurang percaya diri bergabung dengan komunitas lari yang sudah mahir.

Metode ini dipopulerkan oleh ahli fisiologi asal Jepang, Hiroaki Tanaka, yang menekankan teknik langkah pendek dengan frekuensi lebih tinggi dibanding jogging konvensional, serta pendaratan pada bagian tengah telapak kaki agar terasa lebih ringan dan minim risiko cedera. Postur tubuh yang tegak dengan pandangan lurus ke depan juga menjadi kunci teknik yang benar.

Dari sisi kesehatan, dokter spesialis kedokteran olahraga menjelaskan bahwa slow jogging cocok untuk berbagai kelompok usia karena minim tekanan pada sendi dan otot dibanding olahraga intensitas tinggi. Meski begitu, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang menunjukkan slow jogging lebih efektif membakar kalori dibandingkan jogging berintensitas sedang apabila durasi dan karakteristik individu sama.

Manfaat utamanya justru terletak pada aspek keberlanjutan, karena intensitas yang rendah membuat aktivitas ini lebih mudah dijalani secara konsisten dalam jangka panjang, sekaligus memberikan manfaat bagi kesehatan mental karena dilakukan tanpa tekanan mengejar target waktu.

Bagi pemula yang ingin mencoba, para ahli mengingatkan pentingnya pemanasan sebelum memulai serta menjaga asupan cairan tubuh. Disarankan minum air dua hingga tiga jam sebelum berolahraga, dilanjutkan 30 menit sebelum mulai, dan setiap 15 menit selama aktivitas berlangsung. Penggunaan sepatu yang sesuai juga tidak boleh diabaikan agar terhindar dari cedera meski gerakannya tergolong ringan.

Artikel Terkait