Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Jangan Salah Ambil: Inilah Perbedaan Daun Seledri, Ketumbar, dan Peterseli

Di dapur, daun seledri, ketumbar, dan peterseli sering tertukar karena bentuknya mirip dan berasal dari keluarga tanaman yang sama, yaitu Apiaceae. Padahal, ketiganya memiliki aroma, rasa, dan penggunaan yang berbeda. Salah memilih bisa mengubah cita rasa masakan.

Dilansir dari Kompas.com daun seledri (Apium graveolens) memiliki batang ramping berwarna hijau dengan daun bergerigi. Aromanya kuat, segar, dan agak pahit. Di Indonesia, seledri lazim ditaburkan pada soto, sup, bakso, dan bubur ayam. Bagian daun dan batangnya sama-sama bisa dimakan, dan biasanya ditambahkan di akhir memasak agar aromanya tidak hilang.

Daun ketumbar atau cilantro (Coriandrum sativum) memiliki daun lebih bulat, berlekuk halus, dan terasa rapuh. Rasanya segar dengan sentuhan jeruk dan sedikit sabun, bergantung pada persepsi masing-masing. Sebagian orang merasa daun ketumbar berasa seperti sabun karena faktor genetik yang memengaruhi indra penciuman.

Daun ini populer dalam masakan Meksiko, Thailand, dan India. Sementara biji ketumbar, yang dikeringkan dan digiling, merupakan bumbu dapur Indonesia yang umum, dengan aroma hangat dan sedikit manis.

Peterseli (Petroselinum crispum) hadir dalam dua jenis: berdaun keriting dan berdaun pipih (Italia). Rasanya cenderung lembut, segar, dan sedikit seperti rumput, tidak setajam seledri. Peterseli sering digunakan sebagai penghias dan penyedap pada masakan Eropa serta Timur Tengah, misalnya pada pasta, salad, dan saus.

Cara membedakan ketiga jenis ini anda bisa melihat beberapa perbedaan secara detail. Seledri berbatang lebih tebal dan beraroma paling tajam. Ketumbar berdaun bulat lembut dengan aroma jeruk khas. Peterseli berdaun lebih gelap, dan tampak lebih rapi dengan rasa yang ringan.

Secara gizi, ketiganya rendah kalori dan mengandung vitamin K, vitamin C, serta antioksidan. Peterseli dan seledri relatif kaya vitamin K yang berperan dalam pembekuan darah, sehingga orang yang mengonsumsi obat pengencer darah seperti warfarin perlu menjaga konsistensi asupannya dan berkonsultasi ke dokter.

Agar awet, simpan ketiganya dengan batang dicelup air dalam gelas dan ditutup longgar di dalam kulkas, atau bungkus dengan kertas dapur lembap. Mencuci tepat sebelum digunakan membantu mencegah layu.

 

Artikel Terkait