Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Kenapa "Glass Skin" Mulai Ditinggalkan?

Setelah bertahun-tahun tren glass skin ala Korea mendominasi, arah kecantikan wajah cerah kini bergeser ke konsep yang lebih realistis seperti kulit yang tenang, nyaman, dan memancarkan kilau alami tanpa riasan tebal atau pencahayaan sempurna ala kamera ponsel. Lalu apa yang menyebabkan Glass Skin kini mulai ditinggalkan? Simak selengkapnya dengan membaca artikel ini sampai habis.

Fenomena ini banyak dibahas di berbagai platform kecantikan sepanjang Juli 2026. Alih-alih m engejar tampilan kulit sehalus kaca, masyarakat kini lebih tertarik pada kulit yang benar-benar sehat secara fungsi, bukan sekadar terlihat mulus di layar.

Tren ini semakin besar karena sebagian besar didorong oleh generasi muda yang mulai jenuh dengan standar kecantikan tidak realistis di media sosial, serta meningkatnya edukasi dari dermatolog mengenai bahaya over-eksfoliasi.

Beberapa faktor utama lainnya meliputi paparan sinar matahari tanpa perlindungan, kurang tidur, dehidrasi, hingga penumpukan sel kulit mati yang tidak diangkat secara rutin. Eksfoliasi disarankan dilakukan satu hingga dua kali seminggu menggunakan produk yang lembut agar tidak menimbulkan iritasi.

Klinik kecantikan dan layanan konsultasi kesehatan daring kini semakin banyak menyediakan edukasi gratis mengenai rutinitas dasar seperti pembersihan wajah, pelembap sesuai jenis kulit, hingga pentingnya serum vitamin C sebagai antioksidan yang membantu mencerahkan kulit kusam dan melindungi dari radikal bebas.

Alih-alih langsung mencoba serum viral terbaru, disarankan untuk menengok kembali fondasi perawatan kulit terlebih dahulu, yaitu pembersihan yang tepat, pelembap harian, dan tabir surya konsisten. Ketiga langkah klasik ini disebut sebagai dasar yang sering terlewat di tengah gempuran produk baru setiap bulan.

Para pengamat gaya hidup memperkirakan pergeseran menuju kecantikan alami dan minimalis ini akan terus menguat hingga 2027, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan kulit jangka panjang dibandingkan hasil instan yang berisiko merusak lapisan kulit.

 

 

 

Artikel Terkait