Kartini Media
Sosialisasi Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat. Foto: Istimewa.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Pelaksanaan Program MBG Berbasis Pangan Lokal di Surabaya

Surabaya, Jawa Timur (27/09) - Pelaksanaan pelatihan pemberdayaan masyarakat di Surabaya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kegiatan ini menjadi ruang dialog dan pembelajaran bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk memperkuat pemanfaatan pangan lokal sebagai fondasi pemenuhan gizi.

Badan Gizi Nasional (BGN) melalui tim Direktorat PPM menggelar pelatihan ini selama tiga hari pada 24-26 September di Surabaya Suite Hotel. Dalam pelatihannya itu, BGN menekankan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan strategi utama agar Program MBG berjalan efektif dan berkelanjutan. Dengan melibatkan pelaku usaha, petani, nelayan, dan komunitas lokal, program ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus kesehatan bagi masyarakat.

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, Febrina Estuningtyas, menyampaikan bahwa diversifikasi menu MBG menjadi salah satu fokus penting. “Konsumsi ikan perlu terus didorong sebagai bagian dari menu harian MBG. Selain kaya protein, ikan juga mudah diolah dan tersedia melimpah di Jawa Timur,” ucap Febrina.

Ia menilai, penguatan peran UMKM pengolahan hasil perikanan akan membuka peluang usaha baru dan memperluas manfaat ekonomi Program MBG di tingkat lokal.

Dari sektor pertanian, Pudjiati Ningsih menyoroti pentingnya pemanfaatan pangan lokal secara beragam. “Menu MBG tidak harus selalu berbasis satu komoditas. Kombinasi antara beras, jagung, sayuran, dan ikan akan membentuk pola makan yang lebih seimbang dan bergizi,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk memperhatikan aspek keamanan pangan agar bahan pangan yang digunakan benar-benar layak dan aman dikonsumsi oleh anak-anak sebagai penerima manfaat program.

Sementara itu, Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur Anton Widodo menegaskan bahwa kesiapan pelaku usaha lokal menjadi faktor penentu keberhasilan MBG. “UMKM memiliki peran strategis sebagai penyedia produk pangan. Dengan legalitas usaha yang jelas dan pemenuhan standar mutu, UMKM dapat menjadi mitra andalan dalam pelaksanaan MBG,” tuturnya.

Melalui pelatihan pemberdayaan ini, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat di Surabaya diharapkan semakin kuat. Program MBG tidak hanya dipandang sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal dan upaya membangun kebiasaan konsumsi pangan sehat sejak dini.

 

 

Artikel Terkait