Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Sering Kalap Belanja? Ini Cara Efektif Kurangi Beli Barang yang Tak Perlu

Fenomena belanja impulsif atau impulsive buying terus menunjukan peningkatan memasuki pertengahan tahun 2026. Kemudahan akses belanja online serta maraknya promo dari berbagai platform e-commerce disebut menjadi salah satu pemicu utama masyarakat kerap membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Melansir dari Kompas.com melaporkan mengenai pentingnya menerapkan kebiasaan belanja yang lebih sadar atau mindful spending di tengah kemudahan transaksi digital saat ini.

Menurut laporan tersebut, selain menerapkan kebiasaan belanja yang lebih sadar, masyarakat juga perlu menyadari adanya fenomena "bocor halus" dalam pengeluaran sehari-hari, yakni pengeluaran-pengeluaran kecil yang tampak sepele namun jika diakumulasikan ternyata memberikan dampak besar terhadap kondisi keuangan seseorang setiap bulannya.

Salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan kebiasaan belanja impulsif adalah dengan menerapkan aturan jeda waktu sebelum membeli barang, misalnya menunggu 24 jam hingga beberapa hari sebelum benar-benar memutuskan untuk membeli sesuatu yang tidak direncanakan. Cara ini dipercaya dapat membantu seseorang membedakan antara keinginan sesaat dan kebutuhan yang benar-benar penting.

Selain itu, mencatat pengeluaran secara rutin melalui aplikasi keuangan pribadi turut disarankan agar seseorang lebih sadar terhadap pola belanjanya sendiri. Dengan mencatat setiap transaksi, termasuk pengeluaran kecil seperti jajan atau langganan aplikasi digital, seseorang dapat lebih mudah mengidentifikasi kebocoran anggaran yang selama ini tidak disadari.

Menghapus atau membatasi notifikasi promo dari aplikasi belanja daring juga menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi godaan belanja impulsif. Selain itu, membuat daftar belanja sebelum berbelanja, baik secara daring maupun langsung ke toko, dinilai membantu seseorang tetap fokus pada kebutuhan utama tanpa tergoda oleh barang-barang tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Dengan menerapkan kebiasaan belanja yang lebih terencana dan sadar, masyarakat diharapkan dapat mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik, sekaligus terhindar dari tumpukan barang yang sebenarnya tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan sehari-hari.

 

Artikel Terkait