Perdebatan Mahasiswa dan Polisi Buka Ruang Dialog soal Kebebasan Berpendapat
Perbedaan pandangan antara peserta aksi dan aparat kemudian menjadi bagian dari dinamika demonstrasi
Sulitnya mencari pekerjaan formal di tengah persaingan pasar kerja yang semakin ketat membuat banyak generasi muda, khususnya kalangan Gen Z, mulai melirik kembali profesi-profesi yang selama ini dianggap kurang populer atau bahkan ketinggalan zaman, seperti bertani, pengelasan, hingga pertukangan.
Melansir dari Future of Jobs Report yang dirilis World Economic Forum (WEF) bahkan menempatkan profesi petani dan pekerja pertanian sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja tertinggi secara global hingga 2030, dengan proyeksi tambahan kebutuhan sekitar 35 juta pekerja dalam lima tahun mendatang.
Lonjakan kebutuhan pangan global serta ancaman krisis iklim disebut menjadi pendorong utama kembalinya sektor pertanian sebagai bidang yang strategis, di tengah kekurangan tenaga kerja muda yang mau terjun ke sektor tersebut.
Di Indonesia sendiri, fenomena serupa turut terlihat dari data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik yang mencatat cukup besarnya proporsi pekerja di sektor informal. Peneliti menilai sulitnya penyerapan tenaga kerja muda di sektor formal disebabkan ketidaksesuaian antara pertumbuhan ekonomi dengan penciptaan lapangan kerja, mengingat pembangunan industri belakangan lebih terfokus pada sektor padat modal seperti pengolahan mineral dan pertambangan, yang justru membutuhkan tenaga kerja terampil dalam jumlah terbatas.
Fenomena ini juga terlihat di sejumlah negara lain, seperti Amerika Serikat, di mana minat generasi muda pada profesi kerah biru seperti pengelasan dan pertukangan kembali meningkat, seiring transformasi profesi tersebut menjadi pekerjaan berbasis teknologi tinggi dengan gaji yang kompetitif.
Kekhawatiran terhadap ancaman otomatisasi dan kecerdasan buatan yang mengancam pekerjaan berbasis administrasi turut menjadi salah satu faktor pendorong generasi muda beralih ke keahlian fisik yang dinilai lebih sulit digantikan mesin.
Di sisi lain, tak sedikit pula Gen Z yang memilih membangun beberapa sumber penghasilan sekaligus atau dikenal dengan istilah portfolio career, alih-alih bergantung pada satu pekerjaan tetap seperti generasi sebelumnya. Pergeseran pola pikir ini mencerminkan adaptasi generasi muda terhadap ketidakpastian pasar kerja di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang terus mengubah lanskap dunia kerja secara global.