Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Tekanan Berprestasi Berlebihan Disebut Jadi Pemicu Gangguan Mental pada Anak dan Remaja

 

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026 yang jatuh kemarin Kamis, (23/7), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahaya tekanan berprestasi berlebihan yang kerap dibebankan orang tua kepada anak. Terkanan yang berlebihan ini berpotensi memicu gangguan kesehatan mental pada usia muda.

Dikutip dari dari BertuahPos Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan akar masalah kesehatan mental anak sering kali bermula dari pola asuh yang keliru, di mana alih-alih memberi ruang tumbuh, orang tua justru membebani anak dengan target akademik yang tidak realistis.

Ia menegaskan pentingnya edukasi parenting agar orang tua mampu mendidik dan menumbuhkembangkan anak dalam suasana yang seharusnya penuh kasih sayang, bukan tekanan

Data yang dipaparkan dalam kesempatan tersebut cukup mengkhawatirkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat 115 kasus anak mengakhiri hidup sepanjang periode 2023 hingga 2025, dengan rentang usia korban terbentang dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di berbagai daerah.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, turut menyoroti fenomena remaja yang mencari pelarian pada kebiasaan merokok. Ia menjelaskan bahwa remaja yang merasa tidak dimengerti cenderung mencari pelarian pada rokok, sementara lingkungan masyarakat yang menganggap merokok sebagai hal lazim justru memperkuat persepsi keliru tersebut.

IDAI mendorong para dokter anak dan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal gangguan mental pada anak, mulai dari perubahan pola makan, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga penurunan prestasi akademik yang drastis.

Pendekatan evaluasi menyeluruh yang mencakup kondisi rumah, pola makan, aktivitas harian, dan aspek keselamatan dinilai penting dilakukan secara terbuka, karena anak umumnya tidak akan bercerita bila tidak ditanya secara langsung.

Momentum Hari Anak Nasional ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh keluarga Indonesia bahwa prestasi bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan anak, dan kesehatan mental generasi muda perlu mendapat perhatian yang setara dengan capaian akademik maupun non-akademik lainnya.

 

 

Artikel Terkait