Kartini Media
Ilustrasi belanja impulsif tergiur diskon. Foto: Freepik

Waspada Kena Spaving, Tergiur Belanja Harga Diskon Malah Jadi Boros

Era digital saat ini melahirkan banyak aplikasi membantu kemudahan aktivitas hidup sehari-hari. Mulai dari aplikasi belanja, aplikasi transportasi, aplikasi olahraga, aplikasi keuangan, aplikasi pembayaran, hingga aplikasi khusus pemberi cashback, dan lain sebagainya.

Muncul Aplikasi Belanja Banjir Diskon

Para pengembang aplikasi umumnya tidak memungut biaya jasa pemakaian. Bahkan, untuk menjaring user, pengembang aplikasi tak segan memberikan berbagai macam penawaran promo, diskon, dan cashback.

Anda termasuk kategori penikmat promo-promo ditawarkan oleh aplikasi-aplikasi kekinian tersebut? Menikmati belanja dengan harga diskon memang menyenangkan.

Tetapi, berhati-hatilah agar penawaran promo tidak menjebak Anda bertindak boros dengan terus-menerus belanja konsumtif.

Bermunculan promo diskon, potongan harga besar-besaran, dan cashback berharap bisa berhemat justru bisa memicu perilaku spaving atau semakin boros, berbahaya bagi kondisi finansial.

Mengenal Spaving

Istilah spaving muncul menggambarkan perilaku orang selalu membeli barang diskon demi berhemat. Tapi sebenarnya barang-barang tersebut belum tentu diperlukan dan malah berisiko pemborosan.

Spaving singkatan dari “Spending and Saving” dalam konteks keuangan. Jadi ketika membeli sesuatu menggabungkan kegiatan pengeluaran (spending) dan penyimpanan (saving) secara bersamaan.

Tujuan Spaving keseimbangan antara kebutuhan dan tanggung jawab keuangan.

Lalu, apakah spaving itu tindakan baik? Belum tentu, bisa jadi justru terjebak spaving itu sendiri, kata pakar finansial dan perencana keuangan Andrea Woroch, seperti dikutip dari Huffington Post.

"Spaving adalah tindakan mengeluarkan uang untuk menghemat uang," jelas Andrea.

Andrea menjelaskan, “Hanya karena suatu barang lagi diskon, bukan berarti benar-benar butuh barang tersebut.”

“Misalnya lihat ada tas harganya diskon dari Rp500 ribu menjadi cuma Rp250 ribu. Lalu, membeli tas itu dengan pikiran ‘mumpung lagi diskon’.”

“Padahal harus keluarin uang Rp250 ribu dari rekening. Dan hal ini terjadi berulang-ulang kali dengan mindset masih sama, mumpung lagi diskon, langsung beli.”

Semakin sering seperti ini, maka semakin boros. Umumnya, orang melakukan spaving selalu tergiur sama diskon. Padahal belum tentu membutuhkan barangnya.

Solusi Spaving

Kunci tidak terjebak kondisi spaving adalah jangan impulsif. Terpenting tidak termakan iklan dan tergiur diskon demi kelangsungan hidup dan kesehatan isi rekening.

Sebaiknya membeli barang multifungsi, mulai hunting barang-barang 2in1 atau 3in1 agar tidak terlalu banyak membeli barang.

Selain itu, perhatikan kualitas agar biar lebih awet dan tahan lama. Penting mulai nge-list barang dibutuhkan untuk dibeli.

"Bahkan meskipun Anda mendapatkan sesuatu dengan harga jual sangat bagus, Anda tetap membelanjakan uang seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu lebih penting, seperti menabung, membayar utang, berinvestasi, dll.," kata Andrea.

Trik spaving membuat seseorang membeli banyak barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan hanya untuk mendapat penawaran bagus.

Perlu diketahui bahwa penawaran diskon bertujuan menciptakan kesan 'darurat' dengan istilah-istilah menggoda seperti 'hanya satu hari', 'dalam waktu terbatas' atau 'flash sale'.(*)

Artikel Terkait