Maudy Ayunda Umumkan Kehamilan Anak Pertama, Bagikan Foto USG dan Baby Bump
Maudy pamerkan foto baby bump dan hasil ultrasonografi (USG) calon buah hatinya.
Dampak asap kebakaran hutan dan lahan selama ini lebih sering dibahas dari sisi pernapasan, seperti batuk, sesak, dan infeksi saluran napas akut. Padahal, sejumlah kajian menunjukkan paparan polusi udara juga dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan mental, mulai dari stres hingga kecemasan.
Dikutip dari detik.com kebakaran hutan dan lahan berulang kali menyelimuti wilayah Sumatra dan Kalimantan, bahkan asapnya hingga terbawa ke negara tetangga. Asap tersebut mengandung partikel halus PM2.5 yang mampu masuk jauh ke dalam paru-paru dan memasuki aliran darah.
Peneliti menduga partikel halus dapat memicu peradangan di tubuh, termasuk yang memengaruhi otak. Sejumlah studi epidemiologi mengaitkan paparan polusi udara dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.
Selain jalur biologis, ada pula jalur psikologis dan sosial. Ketika kualitas udara memburuk, warga dianjurkan tinggal di dalam rumah. Aktivitas luar ruang berkurang, anak-anak tidak dapat bermain, dan sekolah kadang diliburkan.
Kondisi ini dapat memicu rasa jenuh, terisolasi, dan sulit tidur. Kekhawatiran akan kesehatan keluarga serta gangguan pada pekerjaan dan penghasilan juga menambah beban pikiran.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih mencakup anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit paru dan jantung, serta mereka yang sebelumnya memiliki gangguan kesehatan mental.
Untuk mengurangi dampaknya, masyarakat dapat memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi atau situs resmi, memakai masker yang sesuai seperti N95 saat harus keluar rumah, menutup ventilasi, serta memakai penyaring udara bila memungkinkan. Menjaga rutinitas tidur, tetap aktif bergerak di dalam ruangan, dan terhubung dengan keluarga atau teman juga membantu menjaga kondisi mental.
Bila muncul rasa cemas berlebihan, murung berkepanjangan, atau gangguan tidur yang mengganggu aktivitas, segera berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan terdekat. Pencegahan kebakaran dari hulu tetap menjadi kunci agar masalah ini tidak terus berulang.