WHO Prediksikan Kasus Kanker Global Bisa Menembus Hampir Dua Kali Lipat pada 2050
WHO memperkirakan jumlah kasus baru kanker akan meningkat dari sekitar 20,6 juta kasus setiap tahun
Industri kecantikan global maupun nasional dilaporkan memasuki fase baru pada 2026, di mana arah pengembangan produk skincare kembali berfokus pada sains yang teruji secara klinis, setelah bertahun-tahun didominasi tren viral dan klaim bahan yang bersifat sensasional. Pergeseran ini banyak dibahas media lifestyle nasional dengan mengutip pandangan para dermatolog internasional.
Melansir dari Allure Dermatolog bersertifikat asal Boston, dr. Uchenna Okereke, menyatakan bahwa sains sangat unggul di kategori skincare pada tahun 2026. Pernyataan ini mencerminkan konsensus di kalangan dermatolog bahwa inovasi produk kecantikan kini tidak lagi mengutamakan sensasi sesaat, melainkan efektivitas jangka panjang yang didukung riset klinis yang kuat.
“Bahan aktif seperti retinol dan vitamin C tetap menjadi andalan utama formulasi skincare tahun ini, namun dengan karakter yang jauh lebih halus, stabil, dan minim risiko iritasi dibandingkan formulasi generasi sebelumnya,” tutur Uchenna Okereke.
Kemajuan teknologi delivery system disebut memungkinkan bahan aktif menembus lapisan kulit secara lebih efektif tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna, sehingga konsumen dapat kembali ke bahan-bahan dasar yang telah terbukti secara ilmiah dengan cara yang lebih cerdas.
Tren lain yang turut berkembang adalah meningkatnya permintaan produk pendukung sebelum dan sesudah prosedur perawatan klinik, seperti laser dan injeksi kolagen, seiring makin populernya perawatan estetika berbasis klinik di kalangan masyarakat urban. Produk berbasis peptide dan growth factor dirancang khusus untuk mempercepat pemulihan kulit serta mengoptimalkan hasil perawatan tersebut.
Isu sunscreen turut menjadi sorotan, setelah berbagai kontroversi terkait keamanan bahan pada tahun sebelumnya. Pada 2026, konsumen dilaporkan semakin menuntut transparansi bahan, jaminan keamanan, serta tekstur yang nyaman digunakan setiap hari.
Perubahan preferensi ini mendorong produsen kosmetik untuk lebih terbuka mengenai kandungan produk, sekaligus memperkuat riset keamanan sebelum produk dipasarkan secara luas kepada konsumen di Indonesia maupun mancanegara.