Kartini Media
Denny Wirawan Gelar Fashion Show Batik Kudus. Foto: Rilis media

Denny Wirawan Gelar Fashion Show Batik Kudus di Kota Asalnya

Desainer Denny Wirawan baru-baru ini memamerkan karya terbarunya dalam presentasi unik dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Sang desainer memperlihatkan koleksinya ke Kudus, ke kota asalnya.

Dalam koleksi, Denny menghadirkan kembali kecintaannya terhadap wastra Indonesia dan kolaborasi dengan para pembatik binaan Bakti Budaya Djarum Foundation, pembatik pesisir di Pekalongan, dan kolektor batik Agam Riyadi.

Koleksi 'Sandyakala Smara'

Denny menamakan koleksinya dengan 'Sandyakala Smara' sebagai bentuk dedikasi menggali lebih dalam lagi potensi-potensi yang ada pada motif Batik Kudus yang belum tereksplorasi, setelah sebelumnya hadir koleksi Pasar Malam, Padma, dan Wedari.

"Dinamakan Sandyakala Smara, karena kita memamerkannya pada saat sunset dan cinta saya kepada Batik Kudus," ungkap Denny dikutip dari wolipop.

Koleksi Batik Kudus dalam 'Sandyakala Smara' mengambil ciri khas gaya ‘Kebaya Encim’ dipadukan dengan kain Batik Kudus sebagai padanannya di dekade 1930-an hingga 1950-an.

Denny juga mengatakan bahwa kembali mengolah Batik Kudus merupakan bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Mengingat akhir 2015, ia pernah membuat sebuah koleksi mini ditampilkan di New York menggunakan motif batik Kudus.

Lebih lanjut, Denny menjelaskan persiapan koleksi ready to wear dilakukan selama tiga tahun dengan masa produksi empat bulan.

Pagelaran busana ini digelar di rumah adat Joglo Pencu atau rumah adat Kudus Yasa Amrta, Jawa Tengah yang dirancang menjadi runaway memamerkan koleksi 'Sandyakala Smara'.

Dikutip dari kemdikbud.go.id, rumah adat Kudus atau Joglo Pencu mempunyai karakter khas Jawa Pesisiran, yaitu egaliter, terbuka, dan lugas.

Rumah adat Kudus memiliki atap genteng yang disebut atap pencu, dengan bangunan didominasi seni ukir sederhana khas kabupaten Kudus yang merupakan perpaduan gaya dari budaya Jawa (Hindu), Persia (Islam), Cina (Tionghoa) dan Eropa (Belanda).

Rumah ini diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 1500-an Masehi dengan 95 prersen kayu jati asli.

Dihadiri 250 orang, parade busana berhasil memanjakan mata para pecinta fashion sekaligus memajukan UMKM sekitar, termasuk pembatik.

Dikatakan bahwa acara tersebut sukses melariskan batik klasik, begitu juga kuliner di Kota Kretek itu yang ludes menjelang acara.(*)

Artikel Terkait