Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Dokter Spesialis Ungkap Tips Agar Terhindar dari Risiko Usus Buntu

Usus buntu adalah peradangan pada kantung kecil di usus besar kanan bawah, sering disebut apendisitis, yang ditandai nyeri perut kanan bawah memburuk saat bergerak. Penyebab utamanya adalah sumbatan (tinja keras/tumor) yang memicu infeksi, membutuhkan penanganan medis segera untuk mencegah pecah. Adapun gejalanya meliputi seperti mual, muntah, demam, dan konstipasi.

Melansir laporan liputan6.com dokter spesialis bedah umum Lucia Nirmalasari menyampaikan tips mencegah usus buntu yang bisa anda sadari lebih dini. Salah satu tips yang penting agar terhindar dari sakit tersebut adalah dengan menerapkan pola hidup sehat.

“Walaupun tidak semua kasus usus buntu dapat dicegah, beberapa langkah ini dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Menjaga pola hidup sehat dapat membantu mengurangi risiko gangguan pada sistem pencernaan, termasuk usus buntu,” kata Lucia mengutip.

Tak hanya itu, Lucia juga membagikan tipis-tips dalam mengurangi risiko terkena penyakit usus buntu. Terdapat empat cara yang bisa dianjurkan agar anda terhindar dari penyakit usus buntu.

·       Mengonsumsi makanan yang kaya serat seperti buah dan sayur

·       Minum air putih yang cukup setiap hari

·       Menjaga pola makan yang seimbang

·       Menghindari kebiasaan menahan buang air besar (BAB).

Penyebab Penyumbatan Usus Buntu

Penyumbatan pada usus buntu dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti penumpukan tinja, pembengkakan jaringan, atau infeksi. Ketika terjadi penyumbatan, bakteri dapat berkembang di dalam usus buntu dan memicu peradangan yang menyebabkan nyeri.

Peradangan pada usus buntu inilah yang kemudian dikenal sebagai Apendisitis.

Pada dasarnya, usus buntu bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, yakni:

Usia Remaja hingga Dewasa Muda: Kasus usus buntu paling sering terjadi pada usia sekitar 10 hingga 30 tahun. Meski demikian, anak-anak maupun orang dewasa tetap bisa mengalami usus buntu.

Riwayat Keluarga: Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat usus buntu mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kondisi yang sama.

Pola Makan Rendah Serat: Pola makan yang rendah serat dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Kurangnya asupan serat dapat menyebabkan sembelit yang berpotensi memicu penyumbatan pada usus buntu.

Infeksi pada Saluran Pencernaan: Infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan juga dapat menyebabkan pembengkakan jaringan yang dapat memicu terjadinya usus buntu.

 

Gejala Usus Buntu

Gejala usus buntu biasanya muncul secara bertahap. Tanda yang paling umum adalah nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar, kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut.

Selain nyeri perut, beberapa gejala usus buntu yang sering muncul antara lain:

·       Mual dan muntah

·       Nafsu makan menurun

·       Demam ringan

·       Perut terasa kembung

·       Nyeri yang semakin terasa saat bergerak, batuk, atau berjalan.

“Jika gejala tersebut muncul dan terasa semakin berat, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.”

Usus buntu yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah pecahnya usus buntu.

Ketika usus buntu pecah, bakteri dapat menyebar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi serius yang disebut Peritonitis. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera karena dapat membahayakan kesehatan.

 

Artikel Terkait