Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

El Nino Picu Lonjakan Kasus DBD, Masyarakat Diimbau Waspadai Musim Kemarau Basah

Fenomena El Nino kembali menjadi sorotan setelah sejumlah laporan kesehatan menyebutkan adanya peningkatan penyebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena cuaca yang menyebabkan pergeseran pola hujan dan suhu ini dinilai menciptakan kondisi lingkungan yang lebih ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penular virus dengue.

Peningkatan suhu udara akibat El Nino diketahui mempercepat siklus hidup nyamuk sekaligus memperpendek masa inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk, sehingga potensi penularan ke manusia menjadi lebih tinggi.

Selain itu, pola hujan yang tidak menentu turut menciptakan genangan air baru sebagai tempat berkembang biak yang lebih banyak, terutama di kawasan permukiman padat penduduk yang minim sistem drainase memadai.

Dikutip dari tempo.com pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah berulang kali mengimbau masyarakat untuk kembali menggencarkan gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas penampung air, ditambah langkah tambahan seperti penggunaan larvasida dan kelambu.

Deteksi dini terhadap gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, serta munculnya bintik merah pada kulit juga terus disosialisasikan agar penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi pasien memburuk.

Sejumlah rumah sakit daerah dilaporkan mengalami peningkatan jumlah pasien DBD dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun tanpa fenomena El Nino signifikan. Kondisi ini mendorong dinas kesehatan di berbagai daerah untuk memperkuat kegiatan fogging serta pemantauan jentik nyamuk secara berkala di lingkungan sekolah dan permukiman.

Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa pencegahan tetap menjadi kunci utama, mengingat vaksin DBD yang tersedia belum dapat menggantikan pentingnya pengendalian lingkungan.

Masyarakat diimbau untuk tidak menunggu gejala berat sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, mengingat DBD dapat berkembang cepat menjadi kondisi yang mengancam jiwa apabila penanganannya terlambat. Kewaspadaan kolektif dari tingkat rumah tangga hingga pemerintah daerah dinilai menjadi faktor penentu dalam menekan angka kasus di tengah anomali cuaca yang terus berlangsung.

 

Artikel Terkait