Kartini Media
Ilustrasi Kabah di Masjidil Haram. Foto: Freepik

Mengenal Haji Tamattu, Begini Penjelasannya

Menunaikan ibadah haji merupakan rukun Islam kelima wajib dilaksanakan bagi umat Islam yang mampu dan memenuhi syarat.

Berdasarkan pelaksanaan, ibadah haji terbagi menjadi tiga macam yakni haji qiran, haji tamattu, dan haji ifrad.

Haji qiran dilakukan dengan menyatukan niat haji dan umrah secara bersamaan.

Sedangkan, haji tamattu dilakukan dengan mengerjakan ibadah umrah, kemudian haji.

Haji ifrad yaitu mengerjakan ibadah haji terlebih dahulu, baru umrah.

Meskipun berbeda dalam penyebutan dalam istilahnya, namun rukun yang dikerjakan tetap sama.

Sebagian besar masyarakat Indonesia umumnya mengambil haji tamattu.

Melansir laman Kemenag, haji tamattu merupakan satu di antara cara beribadah haji, selain haji qiran dan haji ifrad.

Dalam mengerjakan haji tamattu, jemaah haji terlebih dulu berihram dan berniat umrah dari miqat, lalu mengerjakan tawaf dan sai' serta bertahallul.

Jika tahapan ini sudah dilakukan jemaah haji tidak terkena larangan ihram sampai berihram kembali dan berniat haji mulai tanggal 8 Zulhijjah hingga selesai.

Rasulullah SAW mengerjakan haji dengan cara semacam itu berdasarkan hadits.

Abdullah bin Umar berkata: "Rasulullah SAW melaksanakan haji wada secara tamattu dengan umrah kemudian haji. Beliau menyembelih hewan yang dibawa serta sejak dari Dzulhulaifah. Rasulullah memulai bertalbiyah saat umrah kemudian bertalbiyah kembali saat haji. Orang-orang yang ikut serta bersama Rasulullah SAW juga melaksanakan haji tamattu dengan umrah terlebih dulu baru kemudian berhaji." (HR. Al-Bukhari)

Nabi Muhammad SAW memilih haji tamattu dengan beberapa alasan:

Pertama, beliau memilih kemudahan dan kelonggaran dalam beribadah haji.

Kedua, beliau mengajarkan kepada umat Islam berhaji dengan latar belakang perbedaan usia, jenis kelamin, kesibukan, dan lain-lain agar melaksanakan ibadah haji sesuai dengan kemampuan.

Ketiga, beliau mengajarkan bahwa haji merupakan ibadah fisik tapi harus disertai penjiwaan dan penghayatan. Tak masalah walau haji tamattu dinilai lebih santai, asalkan dijiwai dan dihayati supaya hajinya mabrur.(*)

Artikel Terkait