Kartini Media
Ilustrasi teknologi pengenal wajah. Foto: Istimewa

Perempuan Hamil Jadi Korban Salah Tangkap Gegara Teknologi Pengenal Wajah, Polisi Digugat

Kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin menjadi bagian integral dari berbagai industri, merevolusi bagaimana tugas dilakukan, keputusan dibuat, dan data dianalisis. Namun, hal ini juga menyimpan potensi kesalahan.

Beberapa bulan lalu, seorang perempuan hamil dituduh secara salah dan ditangkap karena perampokan. Ia jadi korban kesalahan teknologi pengenal wajah oleh AI. Hal ini menjadi pengingat tidak bergantung pada teknologi AI.

Porcha Woodruff , perempuan hamil berusia 32 tahun ditangkap di luar rumahnya di Michigan, Amerika Serikat, terkait kasus perampokan dan pembajakan mobil.

Menurut The New York Times, Woodruff dituduh melakukan kejahatan tersebut oleh polisi Detroit, yang menggunakan perangkat lunak teknologi pengenal wajah bertenaga kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi calon tersangka.

Setelah penangkapan, Woodruff ditahan selama 11 jam sebelum didakwa di pengadilan dan kemudian dibebaskan dengan jaminan pribadi sebesar $100.000 (sekitar Rp1,5 miliar).

"Saya mengalami kontraksi di dalam sel tahanan. Punggung saya mengalami rasa sakit yang tajam ke seluruh tubuh saya. Saya mengalami kejang-kejang. Saya yakin saya mungkin mengalami serangan panik," kenangnya.

Dilaporkan, setelah dibebaskan, Woodruff bergegas ke rumah sakit, di mana ia didiagnosis menderita dehidrasi. Sebulan kemudian, jaksa penuntut membatalkan kasus dituduhkan kepadanya.

Enam bulan kemudian, Woodruff mengajukan gugatan atas kasus salah tangkap polisi Detroit. Laporan tersebut menyoroti bahwa ini bukanlah kasus pertama dari salah tangkap dikaitkan dengan teknologi AI.

Kasus Woodruff menandai kasus keenam dimana orang kulit hitam menjadi korban salah tangkap sebagai akibat teknologi pengenal wajah digunakan polisi mencocokkan wajah pelaku kejahatan yang tidak teridentifikasi dengan foto dalam database.

Selain itu, polisi Detroit sedang menangani tiga tuntutan hukum terkait salah tangkap disebabkan penggunaan teknologi pengenal wajah. Khususnya, Woodruff adalah perempuan pertama membagikan pengalamannya.(*)

Artikel Terkait