Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Potensi Bahaya Kemarau Ekstrem Dampak ‘El Nino Godzila’

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi potensi terjadinya 'Godzilla' El Nino di Indonesia disertai dengan Indian Ocean Dipole (IOD) akan terjadi pada beberapa bulan mendatang. Fenomena ini diprediksi akan memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang dan kering, terutama di wilayah Indonesia bagian Barat dan Selatan.

Menurut BRIN, El Nino "Godzila" merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator. Fenomena iklim 'Godzilla' El Nino diprediksi bakal membuat cuaca di Indonesia dan sejumlah negara di dunia semakin panas dalam beberapa bulan ke depan.

Dikutip dari detik.com Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terkait kemarau panjang yang mungkin disebabkan oleh El Nino 'Godzila'.

"Kemenkes melalui Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit akan merilis Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan Menghadapi Potensi Peningkatan Kebakaran Hutan dan Lahan, Polusi Udara serta Penyakit Terkait Iklim di Musim Kemarau," kata Aji Muharwarman.

"Maksud dan tujuan Surat Edaran ini untuk memberikan pedoman bagi kepala dinas kesehatan provinsi, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, direktur/kepala rumah sakit, kepala besar/balai/loka kekarantinaan kesehatan, kepala balai besar/balai laboratorium kesehatan, serta kepala Puskesmas di seluruh wilayah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kesehatan akibat musim kemarau tersebut," sambungnya.

Dampak Musim Kemarau PanjangKemenkes membeberkan ada beberapa dampak yang bisa terjadi jika Indonesia benar-benar dihantam oleh kemarau panjang.
"Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang rendah dapat menyebabkan proses pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang," kata Aji.

"Pada hari-hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi," sambungnya.

Sementara itu, melansir IFL Science, hasil pemodelan mereka menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diprediksi melonjak tajam dalam enam bulan ke depan.

Lonjakan suhu di samudra yang berada di sebelah timur wilayah Indonesia itu menjadi dasar prakiraan terbentuknya El Nino pada Agustus mendatang. Model ini menyatakan ada kemungkinan 22 persen potensi terbentuknya El Nino super, 80 persen peristiwa besar (strong), dan 98 persen peristiwa moderat.

Ketika El Nino muncul dengan kekuatan luar biasa, fenomena ini disebut 'Godzilla El Nino'.
Fenomena ini terakhir terjadi pada 2015-2016 akibat suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik. Saat itu, fenomena ini memicu serangkaian bencana alam di sejumlah penjuru dunia.

Artikel Terkait