Kartini Media
Greta Gerwig. Foto: Getty Images

Sutradara Film Barbie Greta Gerwig Akui Punya ADHD

Film Hollywood berjudul Barbie resmi dirilis, Jumat (21/7/2023). Sutradara film Barbie adalah Greta Gerwig. Sesaat diluncurkan, Barbie mendapat tanggapan positif.

Tak sedikit yang mengapresiasi karya perempuan kelahiran Amerika Serikat tersebut. Banyak yang kagum pada Greta Gerwig dan penasaran bagaimana proses kreatif di balik dirinya hingga bisa menghasilkan karya-karya tak sembarangan, termasuk film Barbie.

Dalam sebuah wawancara bersama The Observer, Greta Gerwig menceritakan sisi lain kehidupannya. Greta Gerwig mengaku didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Sutradara Barbie Miliki ADHD

Dijelaskan Greta Gerwig saat masa-masa dirinya begitu taat aturan, terstruktur, sangat terorganisir, dan punya begitu banyak energi sebagai seorang anak kecil.

Gerwig mengatakan diagnosis ADHD didapat ketika berusia dewasa. Perempuan berusia 39 tahun ini mengungkapkan bahwa gejala-gejala ADHD sudah mulai tampak sejak ia masih kecil.

"Sekarang, sebagai orang dewasa, saya punya ADHD. Mereka mendiagnosis saya," ujar Greta Gerwig mengutip Huffington Post, Kamis (20/7/2023).

Lebih jauh, Gerwig menyebutkan dirinya selalu punya antusiasme begitu tinggi pada semua hal.

"Saya memiliki imajinasi yang sangat aktif. Saya memiliki banyak perasaan yang sangat dalam. Saya emosional," kata Gerwig.

Sang ibu mengambil peran penting mengajak Gerwig mengikuti berbagai aktivitas, harapannya agar energi Gerwig habis dan bisa merasa lelah setelahnya.

ADHD

Dikutip dari Medical News Today, orang dengan ADHD biasanya akan mengalami hiperfokus. Alhasil, karena terlalu fokus pada hal yang sedang dilakukan itulah mereka bisa bekerja dengan efisien dengan hasil memuaskan.

Begitu juga dengan kreativitas. Orang dengan ADHD dianggap sangat kreatif, terutama ketika melakukan tugas berorientasi pada tujuan.

Orang dengan ADHD terbiasa dihadapkan dengan tugas berbeda-beda bahkan bisa menjadi pemecah masalah yang hebat, seringkali menjadi pembicara.

"Mereka yang punya ADHD sering banyak bicara, yang berarti mereka dapat memicu percakapan yang menarik dalam sebagian besar kondisi," tulis keterangan tersebut.

Studi yang dipublikasikan SpringerLink menemukan bahwa orang dengan ADHD punya tingkat kecerdasan sosial, humor, dan pengenalan perasaan, atau empati yang lebih tinggi.

Secara umum, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf, biasanya terlihat pada masa kanak-kanak dan bertahan hingga memasuki usia dewasa.

ADHD Bisa Dikelola

Individu dengan ADHD biasanya mengalami masalah berkaitan dengan atensi, impulsivitas, dan hiperaktivitas. Beragam masalah ini bisa turut mengganggu produktivitas hingga hubungan penderitanya dengan orang lain.

"Faktor genetik memainkan peran signifikan, mengingat ADHD cenderung diturunkan dalam keluarga," jelas psikolog konseling Vishnu Priya Bhagirath dikutip dari republika.co.id.

ADHD bisa dikelola dengan beragam kombinasi terapi, tergantung kondisi masing-masing penderita. Beberapa contoh terapi yang dapat diberikan untuk penderita ADHD adalah intervensi perilaku, konseling, dan penggunaan obat.

Bhagirath mengatakan ada beberapa langkah perlu dilakukan mendukung penderita ADHD.

1. Ciptakan lingkungan terstruktur dan mendukung penderita ADHD dengan rutinitas konsisten dan ekspektasi jelas.

2. Dorong penderita ADHD melakukan aktivitas fisik secara rutin menyalurkan kelebihan energi mereka.

3. Batasi paparan toksin atau racun lingkungan selama masa kehamilan hingga masa kanak-kanak.

4. Terapkan kebiasaan tidur sehat, sediakan asupan makan yang bergizi, dan batasi paparan layar atau screen time.

5. Bina hubungan positif dengan penderita ADHD, didukung komunikasi terbuka dan ketahanan emosi yang baik.(*)

Artikel Terkait