Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

BRIN Beri Penjelasan Terkait Bahaya Ikan Sapu-Sapu bagi Kesehatan

 

Ikan sapu-sapu menjadi pembahasan yang sedang ramai karena keberadaannya yang dianggap hama dan berbahaya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai bahaya mengkonsumsi ikan sapu-sapu bila dimakan terus menerus.

Pemerintah saat ini terus berupaya membasmi ikan sapu-sapu dibeberapa wilayah khususnya dikawasan Jabodetabek. Penangkapan ikan sapu-sapu terus marak dibahas setelah Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta berhasil menangkap 11 ton ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung beberapa waktu lalu.

Melansir dari Sindonews.com Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, angkat bicara mengenai risiko kesehatan yang mengintai. Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki sifat bioakumulasi, di mana logam berat yang terserap dari air yang tercemar akan mengendap secara permanen di dalam jaringan tubuh, termasuk dagingnya.

"Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu kalau dimakan dalam jumlah yang melebihi batas ambang amannya, itu bahaya," ujar Triyanto.

Lebih lanjut, Triyanto menambahkan meski proses pengolahan dilakukan sedemikian rupa, kandungan logam berat tersebut tidak akan hilang.

"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang," tegasnya.

Peneliti BRIN tersebut juga menyampaikan bahaya mengkonsumsi siomay dengan kandungan ikan sapu-sapu akan membahayakan kesehatan tubuh. Untuk itu, Triyanto meminta masyarakat untuk tidak terlalu panik jika hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil. Namun, risiko akan meningkat drastis jika menjadi konsumsi rutin.

"Kalau kita makan setiap minggu sampai 8 kilo berturut-turut setiap tahun, nah baru itu mungkin itu bahaya. Tapi kalau sekali-sekali saya kira itu masih bisa ditolerir oleh tubuh kita," ungkapnya.

Sebagai salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut ia menyarankan masyarakat lebih jeli saat membeli makanan yang ada indikasi mengandung ikansapu-sapu.

"Yang penting kita lebih peduli, kita tanya sama penjualnya mohon maaf Bang ini dagingnya sehat atau nggak gitu ya. Nanti baru ditelusuri lagi," pungkasnya.

Artikel Terkait