Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital: Ancaman Nyata di Balik Layar Gawai

Meningkatnya waktu penggunaan gawai untuk bekerja, belajar, dan hiburan membuat gangguan kesehatan mata seperti digital eye strain semakin banyak dikeluhkan masyarakat Indonesia. Hal itu paling dirasakan terutama di kalangan pekerja kantoran dan pelajar.

Dokter spesialis mata menyebut kondisi ini sebagai salah satu keluhan kesehatan yang paling sering muncul di klinik-klinik mata perkotaan belakangan ini. Kondisi ini merujuk pada kelelahan mata akibat menatap layar dalam waktu lama tanpa jeda, dengan gejala seperti mata kering, pandangan kabur sementara, sakit kepala, hingga nyeri di sekitar mata dan leher.

Kebiasaan bekerja yang terus menerus maupun hybrid membuat durasi paparan layar komputer dan ponsel meningkat drastic. Kenyataan tersebut juga diperparah dengan ditambah kebiasaan scrolling media sosial hingga larut malam yang semakin memperparah kelelahan mata.

Pekerja kantoran yang menghabiskan lebih dari delapan jam sehari di depan layar, pelajar yang mengikuti pembelajaran daring, serta anak-anak yang terpapar gawai sejak usia dini menjadi kelompok paling rentan mengalami gangguan penglihatan.

Dokter menyarankan pemeriksaan mata rutin setidaknya satu tahun sekali, terutama bagi mereka yang sudah mulai merasakan gejala seperti pandangan kabur atau mata cepat lelah.

Sebagai salah satu cara pencegahan, para dokter mata merekomendasikan aturan "20-20-20", yaitu setiap dua puluh menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh dua puluh kaki (sekitar enam meter) selama dua puluh detik. Selain itu, atur pencahayaan ruangan agar tidak terlalu terang atau terlalu gelap, gunakan fitur night mode pada gawai di malam hari, serta pastikan jarak pandang layar minimal 50-70 sentimeter dari mata.

Konsumsi makanan yang kaya vitamin A dan omega-3 seperti wortel, ikan salmon, dan sayuran hijau juga disarankan untuk menjaga kesehatan retina dalam jangka panjang.

 

Artikel Terkait