Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Fenomena "Playing Victim" Ramai Dibahas Netizen, Dokter Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Istilah "playing victim" belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah platform gaya hidup Tanah Air. Perilaku ini merujuk pada kecenderungan seseorang memosisikan diri sebagai korban dalam sebuah konflik atau hubungan, meski sebenarnya turut berkontribusi terhadap permasalahan yang terjadi.

Melansir dari sindonews sejumlah tenaga profesional kesehatan mental menjelaskan bahwa perilaku playing victim dapat muncul sebagai mekanisme pertahanan diri seseorang untuk menghindari tanggung jawab atau rasa bersalah.

Pola ini kerap ditemukan dalam hubungan pertemanan, percintaan, hingga lingkungan kerja. Apabila dibiarkan dapat merusak kepercayaan serta komunikasi yang sehat antarindividu.

Dalam jangka panjang, kebiasaan memposisikan diri sebagai korban juga berpotensi berdampak pada kesehatan mental pelakunya sendiri. Sikap ini dapat menghambat kemampuan seseorang untuk introspeksi dan berkembang, karena cenderung melimpahkan penyebab masalah kepada pihak lain alih-alih mengevaluasi diri.

Bagi orang-orang di sekitar pelaku playing victim, dampaknya juga tidak kalah signifikan. Rekan atau pasangan yang terus-menerus dihadapkan pada situasi tersebut berisiko mengalami kelelahan emosional atau yang dikenal dengan istilah emotional exhaustion, karena harus terus memvalidasi perasaan pihak lain tanpa mendapat ruang yang sama.

Untuk menyikapi fenomena ini secara sehat, ahli menyarankan pentingnya menetapkan batasan (boundaries) yang jelas dalam berkomunikasi, tanpa harus bersikap menghakimi.

Apabila pola perilaku ini terjadi berulang dan berdampak signifikan pada kesejahteraan psikologis seseorang, konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental disarankan agar dapat ditangani dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.

Artikel Terkait