Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Meditasi Bukan Klenik: Sains di Balik Praktik Mindfulness yang Meledak di Indonesia

Dari aplikasi meditasi yang diunduh jutaan kali hingga sesi mindfulness di perusahaan-perusahaan Fortune 500 yang beroperasi di Indonesia, meditasi telah bergeser dari praktik spiritual menjadi alat kesehatan mental berbasis bukti ilmiah.

Kesadaran tentang kesehatan mental di Indonesia tumbuh pesat, terutama sejak pandemi Covid-19 yang mengakselerasi diskusi publik tentang kecemasan, depresi, dan burnout. Dalam konteks ini, mindfulness latihan memusatkan perhatian pada momen saat ini secara tidak menghakimi menemukan audiensnya yang baru.

Mengutip The Light Indonesia, laporan dari American Psychological Association menunjukkan bahwa praktik mindfulness secara teratur selama 8 minggu terbukti mengurangi gejala kecemasan, menurunkan kadar kortisol (hormon stres), dan meningkatkan ketebalan korteks prefrontal area otak yang mengatur pengambilan keputusan. Di Indonesia, psikiater dari RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta mulai mengintegrasikan teknik mindfulness ke dalam protokol terapi konvensional.

Sebagian masyarakat Indonesia masih mengidentikkan meditasi dengan praktik keagamaan tertentu atau dianggap "klenik". Padahal, Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) program yang dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn di University of Massachusetts adalah pendekatan sekuler yang dapat dipraktikkan oleh siapa pun tanpa afiliasi keagamaan. Komunikasi yang jelas tentang distingsi ini penting untuk memperluas aksesnya.

Psikolog klinis menekankan bahwa meditasi tidak memerlukan investasi finansial besar. Mulai dengan teknik pernapasan sederhana menarik napas selama 4 hitungan, menahan 4 hitungan, menghembuskan 6 hitungan selama 10 menit sehari sudah memberikan manfaat terukur. Aplikasi gratis berbahasa Indonesia tersedia dan komunitas praktik di berbagai kota terus berkembang

 

 

Artikel Terkait