Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest

Fakta Dermatologis Sebut Sunscreen Bukan Lagi Jadi Sebuah Pilihan

Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan paparan sinar ultraviolet yang termasuk paling tinggi di dunia sepanjang tahun. Namun tingkat kesadaran penggunaan tabir surya secara konsisten masih jauh dari ideal dan konsekuensinya bukan sekadar kulit kusam.

Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) menunjukkan bahwa kanker kulit memang belum menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia dibanding negara-negara berkulit terang. Namun, insiden kasus terus meningkat dan kerusakan kulit akibat paparan UV kronis mulai dari hiperpigmentasi, penuaan dini, hingga melanoma nyata terjadi lintas golongan usia.

Dermatologis sering menghadapi mitos bahwa SPF 50 memberikan perlindungan dua kali lebih baik dari SPF 25. Faktanya, SPF 25 memblokir sekitar 96% sinar UVB, sementara SPF 50 memblokir 98% perbedaan yang tidak sebesar angkanya. Yang jauh lebih krusial adalah konsistensi pemakaian sunscreen yang harus diaplikasikan ulang setiap dua jam, terutama saat beraktivitas di luar ruangan, bukan hanya di pagi hari saat bersiap.

Selain SPF yang mengukur perlindungan dari UVB, konsumen di Asia Tenggara perlu memperhatikan PA rating (Protection Grade of UVA). Sinar UVA menembus awan dan kaca, bertanggung jawab atas penuaan kulit dan berkontribusi pada risiko kanker kulit. Produk dengan PA+++ atau PA++++ memberikan perlindungan UVA yang lebih komprehensif.

Tren "skincare aware" mendorong pasar lokal

Kesadaran konsumen Indonesia tentang perawatan kulit berbasis ilmu pengetahuan mendorong pertumbuhan brand lokal yang memformulasi produk sunscreen dengan mempertimbangkan iklim tropis dan keragaman warna kulit.

Inovasi dalam tekstur—dari sunscreen cair ringan hingga sunscreen stick—membuat kepatuhan penggunaan lebih mudah, terutama bagi pengguna yang sebelumnya menghindarinya karena rasa lengket atau white cast yang mengganggu.

Artikel Terkait