Kartini Media
Ilustrasi Fabelio, perusahaan startup yang bangkrut. Foto: Istimewa

8 Startup Indonesia Bangkrut di Tengah Jalan, Demi Efisiensi akibat Pendapatan Anjlok

Sejumlah startup bangkrut menutup layanan di Indonesia sejak pandemi. Penyebabnya beragam, mulai dari efek berantai pandemi Covid-19 hingga mengantisipasi risiko resesi ekonomi. Startup tutup alias bangkrut lantaran tidak mampu bertahan.

Startup adalah perusahaan rintisan belum lama beroperasi. Dengan kata lain, startup artinya perusahaan baru masuk atau masih berada pada fase pengembangan atau penelitian untuk terus menemukan pasar maupun mengembangkan produknya.

Saat ini, istilah perusahaan startup biasanya mengacu pada perusahaan-perusahaan layanan atau produknya berbasiskan teknologi.

Berikut daftar startup yang bangkrut sejak ada pandemi corona dihimpun dari berbagai sumber:

Fabelio

Pada akhir 2021, Fabelio dilaporkan tidak membayar gaji sejak Oktober. Perusahaan yang bergerak di bidang desain furnitur dan interior ini disebut belum membayar BPJS Ketenagakerjaan sejak 2020, namun memotong dana dari gaji karyawan.

Selain itu juga beredar kabar para karyawan dipaksa untuk mengundurkan diri dengan menggunakan anggota organisasi massa tertentu.

Satu tahun berselang, Fabelio dinyatakan pailit berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No.47/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Niaga.JKT.PST, tertanggal 5 Oktober 2022. Keputusan itu mengabulkan putusan pailit pada perusahaan atas nama PT. Kayu Raya Indonesia.

Sorabel

Sorabel menutup layanan e-commerce busana pada Juli 2020. Perusahaan ini menyasar segmen menengah ke bawah. Namun, sebagian masyarakat pada segmen ini terpukul pandemi virus corona.

Lewat surat kepada seluruh karyawannya disebutkan proses likuidasi menjadi awal penutupan operasional. Dilaporkan, perusahaan kehabisan modal dan kesulitan menggalang pendanaan baru.

Stoqo

Startup yang bergerak di sektor bahan pangan atau sembako ini menutup layanan pada Mei 2020. The Star melaporkan, pendapatan Stoqo anjlok akibat pandemi virus corona. 

Airy Rooms

Hotel agregator ini sempat memiliki bisnis yang baik. Namun pandemi mengubah semuanya dan akhirnya membuat operasional Airy Rooms ditutup pada 31 Mei 2020.

CEO Airy Rooms saat itu, Louis Alfonso mengatakan salah satu alasan penutupan karena Covid-19. Pandemi disebut nyaris menumbangkan pasar.

JD.id

JD.id tutup pada 31 Maret 2023. Sebelumnya perusahaan telah melakukan efisiensi dan serangkaian PHK.

Alasan penutupannya adalah JD.com akan berfokus pada pasar internasional. Raksasa e-commerce itu juga disebut akan membangun jaringan rantai pasok lintas negara.

Qlapa

Berusia empat tahun, Qlapa akhirnya memutuskan menghentikan operasionalnya pada 2019. Saat itu, perusahaan kesulitan bersaing dengan nama besar seperti Tokopedia dan Bukalapak.

CoHive

Pada awal tahun ini, CoHive diumumkan pailit berdasarkan putusan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Register No: 231/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Jkt.Pst, tertanggal 18 Januari 2023.

CoHive beroperasi di 30 lokasi tersebar di sejumlah kota yakni Jakarta, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

Beres.id

Beres.id tutup setelah induk perusahaannya asal Malaysia Kaodim menghentikan seluruh operasionalnya pada 1 Juli 2022.

Kaodim adalah penyedia marketplace jasa penghubung konsumen dengan penyedia jasa service AC, kebersihan rumah, hingga pekerja konstruksi.

Perusahaan telah berekspansi di Indonesia, Singapura, dan Fillipina.(*)

Artikel Terkait