Rutin Olahraga Bantu Tingkatkan Produktivitas Seseorang
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami hubungan antara kesehatan fisik dan menta
Viral kematian tragis dua mahasiswi berselang sehari di Semarang.
Dikutip dari Detik.com, kedua kasus memiliki kemiripan yaitu keduanya merupakan mahasiswi diduga bunuh diri dengan meninggalkan pesan tertulis di kertas.
Mahasiswi UNNES Tewas di Mal Paragon
Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES) berinisial N diduga bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 4 Mal Paragon, Semarang, Selasa (10/10/2023).
Perkiraan ini berdasarkan surat yang ditinggalkan korban ditemukan polisi di lokasi kejadian.
Kapolsek Semarang Tengah Kompol Indra Romantika menyebut secarik kertas itu seolah-olah sebagai surat pamitan korban kepada pihak keluarganya.
Mahasiswi UDINUS Tewas di Kamar Kos
Selang sehari, kasus serupa terjadi. Kali ini dalam kamar kos di Kelurahan Bulusan, Semarang, Rabu (11/10/2023) malam.
Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) berinisial E tewas bunuh diri dan ditemukan sepucuk surat dalam kamar terkunci. Polisi memeriksa dua saksi termasuk pacar korban.
"Sementara bunuh diri karena tidak ditemukan penganiayaan atau tindakan kekerasan pada pemeriksaan luarnya," kata Kapolsek Tembalang Kompol Wahdah saat dihubungi, Kamis (12/10/2023).
Kemenkses Catat Kasus Bunuh Diri Meningkat
Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid menyebut catatan kasus bunuh diri tahun 2022 menyentuh 826 orang. Angka ini meningkat 6,37 persen dibandingkan 2018 yakni 772 kasus.
Catatan bunuh diri di Indonesia relatif jauh lebih tinggi dibandingkan rekor kasus terbanyak Singapura sepanjang 2023, sejauh ini tercatat mencapai 476 korban.
"Untuk catatan 2023 datanya masih kami validasi," jelas drg. Vensya.
Secara terpisah, dr. Khamelia Malik dari Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyebut pencatatan kasus bunuh diri di Indonesia secara riil di lapangan terbilang sulit. Salah satu faktornya dipicu pencatatan kasus berdasarkan rekam medis.
Menurutnya, kasus bunuh diri tidak ditanggung BPJS Kesehatan, sehingga kebanyakan dokter dilema memberikan diagnosis pasti kepada pasien.
Agar bisa ditanggung, korban seringkali diberikan keterangan meninggal karena gangguan kejiwaan depresi, dan jenis masalah mental lainnya.
dr. Khamelia menyebut belakangan semakin banyak remaja melakukan percobaan bunuh diri dan melukai diri sendiri. Bukan tanpa sebab, hal ini dipicu sulitnya menahan impulsivitas atau dorongan kecenderungan impulsif tidak bisa dikendalikan.
Banyak pasien menganggap bunuh diri adalah satu-satunya jalan dari masalah dihadapi.(*)