Hadir di Desa Sumber Makmur, MBG Diharapkan Efektif Tingkatkan Gizi Penerima Manfaat
Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Harga plastik yang melambung tinggi dalam beberapa waktu belakangan telah membuat kegaduhan di masyarakat. Kenaikan harga plastik karena kelangkaan bahan baku mulai memberikan tekanan terhadap beberapa produk di tanah air, salah satunya harga pangan.
Melansir dari liputan6.com Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha beras, gula, dan industri makanan kemasan untuk memantau dampak tersebut.
"Terkait plastik, tentu memang kami sudah beberapa kali rapat dengan stakeholder, yang termasuk pelaku beras, kemudian pelaku gula, dan beberapa pelaku panganan makanan kemasan,” tutur I Gusti Ketut Astawa.
Menurut I Gusti Ketut, kenaikan harga plastik memberikan tambahan biaya produksi, dengan dampak paling terasa pada komoditas beras yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 300 per kilogram. Sementara pada gula, dampaknya relatif lebih kecil, yakni sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram.
“Di beras itu, hampir sekitar Rp 300 per kilogram dampaknya. Tapi di Gula, sedikit, sekitar Rp 100-Rp 150an. Itu pun masih kasar, Namun demikian, kita berterima kasih kepada teman-teman di Kemendag, sudah meminta juga mencari peluang-peluang, kemudian gerak langkah daripada pelaku perusahaan, dia akan mencari dan kita akan berusaha mencari peluang-peluang lain,” jelasnya.
Sebagai pelaku usaha dan ada di pemerintahan, dengan yang terjadi saat ini pemerintah terus mencari alternatif pasokan bahan baku plastik guna menekan dampak lanjutan terhadap harga pangan.
Di sisi lain, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai, gangguan rantai pasok global telah mulai berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku industri non energi) di Indonesia. Indikasi paling nyata terlihat dari lonjakan harga plastik domestik yang meningkat hingga 50–100 persen. Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku.
Berdasarkan yang terjadi, gangguan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga pada bahan kimia industri seperti sulfur dan acid, material logam seperti aluminium, serta material kritikal seperti helium yang digunakan dalam industri elektronik dan teknologi tinggi.