Rutin Olahraga Bantu Tingkatkan Produktivitas Seseorang
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami hubungan antara kesehatan fisik dan menta
Sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura mengalami ancaman kekurangan penduduk dengan semakin sedikit bayi dilahirkan. Di sisi lain, penduduk menua semakin banyak.
Korea Selatan Alami Penurunan Angka Kelahiran
Menurut Statistik Korea, Korea Selatan mencatatkan rekor terendah angka kelahiran total (total fertility rate) pada 2023 dengan 0,72.
Artinya, seorang perempuan di Korea Selatan melahirkan tak sampai satu anak selama masa reproduksinya. Apabila kondisi ini terus terjadi, diperkirakan Korea Selatan akan kehilangan separuh populasinya dari saat ini dalam 75 tahun mendatang.
Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan pada bulan Agustus, Korea Selatan mencatat penurunan populasi selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2022, dari 51,6 juta pada tahun 2021 menjadi 51,4 juta.
Penyebab Menolak Memiliki Anak
Pemerintah Korea Selatan menanyakan pasangan muda di negaranya tentang alasan menolak memiliki anak. Survei dilakukan melalui diskusi dengan pasangan muda berencana tidak memiliki anak pada pertemuan diselenggarakan di Seocho-gu, Seoul selatan.
Penyelenggara adalah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan sedang berupaya mendapatkan ide-ide kebijakan akan membantu mengatasi masalah menurunnya angka kelahiran di Korea Selatan.
Jawaban pasangan muda Korea Selatan tidak ingin memiliki anak karena persaingan ketat di kalangan pelajar dan masalah keuangan.
Beberapa peserta menyuarakan keprihatinan atas sifat hiperkompetitif dalam penerimaan masuk perguruan tinggi yang dimulai sejak usia sangat muda.
"(Orangtua) terus-menerus membandingkan anak-anak dari pesta ulang tahun pertama mereka, bahkan anak mana yang mulai berjalan. Saya rasa saya tidak bisa mengikuti kompetisi tanpa akhir seperti itu," kata salah satu peserta seperti dilansir The Korea Herald.
Ada menyebutkan sepasang suami istri dikenalnya membeli mobil mahal di luar anggaran mereka agar anak-anak mereka tidak kehilangan muka di depan teman-temannya.
Beberapa orang mengatakan mereka kekurangan waktu atau keuangan menjadi orangtua yang baik.
Berdasarkan survei Ipsos terhadap perempuan pekerja berusia 25 hingga 45 tahun dirilis Selasa (27/2/2024), 62,2 persen responden menjawab tidak berencana memiliki anak.
Perusahaan riset global melakukan survei online mengenai pengasuhan anak dan isu-isu terkait, dengan 1.000 perempuan pekerja di Korea Selatan dari tanggal 5 hingga 20 Februari 2024. Survei bekerja sama dengan The Korea Economic Daily.
Hasil penelitian menunjukkan, 66,6 persen responden belum menikah dan 59,2 persen responden sudah menikah menyatakan memilih tidak memiliki anak.
Selain itu dari perempuan belum menikah, 55,0 persen mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk menikah.
Alasan mereka mengambil keputusan tersebut antara lain karena tidak ingin berkomitmen dalam mengasuh anak, tidak memiliki sumber daya finansial, atau takut anak menjadi penghambat pencapaian mereka.
“Banyak orang merasa tidak nyaman bekerja dengan rekan kerja perempuan yang sedang hamil atau sudah membesarkan anak,” kata seorang pegawai negeri perempuan, 37 tahun, dikutip dari The Korea Economic Daily.
“Hal ini membuat banyak pekerja perempuan berpikir bahwa kehamilan, persalinan, atau membesarkan anak bisa menjadi beban bagi perusahaan mereka," tambahmya.
Alasan berikutnya, sebagian perempuan tak siap finansial untuk punya menikah dan punya anak. Mulai dari rumah, biaya pendidikan, hingga biaya kursus.
Respons Pemerintah
Pemerintah Korea Selatan terus berusaha mengatasi ancaman tersebut. Dikutip dari BBC, selama hampir 20 tahun Pemerintah Korea Selatan menggelontorkan dana hingga 379,8 triliun won atau sekitar Rp4.456 triliun.
Bantuan diberikan pemerintah kepada pasangan memiliki anak berupa uang tunai. Mulai dari bantuan bulanan, perumahan subsidi, hingga taksi gratis.
Tidak hanya itu, tagihan rumah sakit dan prosedur bayi tabung juga ditanggung pemerintah.
Namun, insentif finansial tersebut dinilai masih kurang berhasil sehingga politisi mengusulkan sejumlah solusi. Seperti mengecualikan pria dari wajib militer jika mereka memiliki tiga anak sebelum mencapai usia 30 tahun.(*)