Komdigi: Mulai 1 Juli 2026 Pengaktifan Kartu SIM Ponsel Wajib Menggunakan Face Recognition
Kebijakan registrasi biometrik ini diterapkan agar tidak ada lagi penyebaran spam atau penipuan seca
Peru mendeklarasikan darurat kesehatan nasional setelah 231 orang warga mengalami kelumpuhan akibat sebuah penyakit "misterius". Sepanjang 2023, Peru mencatat empat kasus kematian terkait penyakit tersebut.
Kelumpuhan dialami ratusan warga Peru disebabkan penyakit langka bernama Guillain-Barre Syndrome (GBS). Kemunculan gelombang kasus GBS di Peru telah terdeteksi sejak Januari 2023. Akan tetapi, lebih dari setengah kasus GBS baru terjadi pada awal Juni hingga pertengahan Juli.
Penyebab paling umum dari GBS adalah infeksi bakteri jenis campylobacter. Bakteri serupa ditemukan pada para warga Peru yang mengalami kelumpuhan.
Kondisi langka ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel saraf yang sehat, dan biasanya terjadi setelah infeksi virus atau bakteri. Sebagian besar pasien mengalami gejala dimulai pada kaki dan tangan, sebelum menyebar ke lengan dan kaki.
Orang yang terinfeksi mengalami mati rasa, kesemutan, kelemahan otot, nyeri dan masalah dengan keseimbangan dan koordinasi. Sampai saat ini, para ilmuwan terus berjuang menemukan akar penyebab penyakit tersebut.
Dikutip dari The Sun, sampel dianalisis pejabat kesehatan di Peru menunjukkan bahwa itu bisa berasal dari bakteri campylobacter jejuni, yang biasa ditemukan pada makanan dan air terkontaminasi.
Bakteri sama bertanggung jawab atas wabah GBS serupa di Peru beberapa tahun lalu. Kondisi GBS menyebabkan masalah jangka panjang, fatal, dan sebagian besar bisa sembuh total.
Saat ini, pejabat setempat telah mengumumkan GBS sebagai keadaan darurat kesehatan nasional di Peru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengeluarkan pembatasan perjalanan apapun atas wabah GBS.
"GBS berpotensi mengancam jiwa. Pasien GBS perlu dirawat di rumah sakit sehingga mereka bisa dipantau dengan seksama," jelas WHO.
Beberapa hal akan dipantau oleh tim dokter pada pasien GBS adalah napas, detak jantung, serta tekanan darah mereka. Kemungkinan munculnya komplikasi pada pasien GBS juga akan terus dipantau oleh tim dokter.
Beberapa risiko komplikasi yang mungkin terjadi adalah detak jantung tak beraturan, infeksi, gumpalan darah, serta tekanan darah tinggi atau rendah.
"Bila kemampuan pasien bernapas terganggu, dia biasanya akan dipasangi alat ventilator," jelas WHO.
WHO menegaskan agar semua pasien GBS harus dipantau jika menunjukkan adanya komplikasi mencakup detak jantung tidak normal, infeksi, pembekuan darah, dan tekanan darah tinggi atau rendah.
Sejauh ini, belum ada obat khusus bisa mengatasi GBS. Tetapi, ada beberapa pengobatan bisa membantu menangani gejala GBS dan mempersingkat durasinya.
"Mengingat sifat autoimun dari penyakit ini, fase akutnya biasanya diobati dengan imunoterapi, seperti pertukaran plasma untuk menghilangkan antibodi dari darah atau imunoglobulin intravena. Ini paling sering bermanfaat ketika dimulai 7 hingga 14 hari setelah gejala muncul," jelas WHO.
"Dalam kasus dimana kelemahan otot berlanjut setelah fase akut penyakit, pasien mungkin memerlukan layanan rehabilitasi untuk memperkuat otot dan memulihkan gerakan," lanjutnya.
Jumlah kasus tertinggi tercatat di ibukota Lima dua pekan lalu, dengan rata-rata pasien berusia sekitar 41 tahun. Para ahli menyarankan mereka yang bepergian ke daerah dengan GBS fokus pada kebersihan tangan dan pilihan makanan.(*)