Kartini Media
Ilustrasi anak tantrum. Foto: Freepik

Anak Tantrum, Jangan Panik! Lakukan Ini Mengatasinya

Tantrum pada anak merupakan kondisi yang wajar. Melansir Siloam Hospitals, tantrum adalah ekspresi emosional anak termanifestasi dalam berbagai cara, seperti menangis keras, berguling-guling di lantai, atau melempar barang.

Umumnya, tantrum pada anak terjadi saat usia 1–4 tahun karena belum mampu mengungkapkan keinginan atau perasaan dengan kata-kata.

Penyebab tantrum bisa terjadi ketika anak sedang lelah, lapar, merasa tidak nyaman, atau karena tidak bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Ada beberapa jenis tantrum pada anak perlu diketahui orangtua agar bisa mengatasi tantrum anak secara tepat sesuai kondisinya:

1. Tantrum Manipulatif

Muncul saat keinginan anak tidak terpenuhi dengan baik. Anak akan tantrum dengan cara dibuat-buat untuk mendorong orang lain, khususnya orangtua, untuk memenuhi keinginannya.

2. Tantrum Frustasi

Terjadi karena anak belum bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dirinya dengan baik. Pemicu tantrum frustasi antara lain kelelahan, kelaparan, kegagalan melakukan sesuatu, serta stres akibat tekanan lingkungan sekitar.

3. Tantrum Putus Asa

Biasanya terjadi karena ledakan emosi cukup tinggi akibat rasa ketakutan atau ketidaknyamanan cukup besar, namun anak tidak berani menyuarakannya. 

Meski begitu, orangtua tidak perlu panik menghadapi anak mengalami tantrum. Merangkum yankes.kemkes.go.id, berikut cara mengatasi anak tantrum agar tidak terbawa emosi:

1. Tetap tenang

Hindari memarahi anak pada saat tantrum. Cobalah menarik napas dalam dan tenang. Apabila sudah tenang bisa berpikir langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.

2. Memberi ruang anak

Usahakan dampingi anak dari jarak dekat agar bisa memantau perilaku bisa menyakiti seperti memukul, menendang, atau menggigit.

3. Tunjukkan empati

Cobalah memberikan pelukan yang hangat serta membisikkan kata-kata menenangkan. Ciptakan suasana positif dengan menunjukkan empati kepadanya.

4. Pastikan anak aman

Pastikan posisi anak aman dan jauhkan benda-benda berbahaya agar tidak melukai anak.

5. Alihkan perhatian anak

Biasanya anak mudah melupakan sesuatu dan tertarik dengan hal baru. Misalnya, berikan ia mainan atau camilan kesukaannya.(*)

Artikel Terkait