Kartini Media
Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Bukan Sekadar 'Baby Brain', Kehamilan Ubah Struktur Otak Ibu

 

Banyak ibu hamil mengeluh lebih pelupa atau sulit berkonsentrasi, yang sering disebut "baby brain" atau "mommy brain". Riset neurosains menunjukkan perubahan ini bukan sekadar perasaan. Kehamilan diketahui memang memicu perubahan struktur otak, dan perubahan tersebut kemungkinan memiliki fungsi adaptif.

Salah satu studi paling sering dirujuk diterbitkan pada 2016 di jurnal Nature Neuroscience oleh tim peneliti yang dipimpin Elseline Hoekzema. Dengan pemindaian MRI pada perempuan sebelum dan sesudah hamil pertama, peneliti menemukan pengurangan volume materi abu-abu di sejumlah wilayah otak, terutama yang berkaitan dengan pemahaman sosial dan empati.

Perubahan itu bertahan setidaknya dua tahun setelah melahirkan. Para peneliti bahkan dapat memprediksi kelekatan ibu terhadap bayinya dari pola perubahan tersebut.

Penting dipahami, pengurangan volume tidak otomatis berarti otak "rusak". Para ilmuwan menafsirkannya sebagai proses penghalusan dan spesialisasi sirkuit saraf, mirip perubahan otak pada masa remaja, agar ibu lebih peka terhadap kebutuhan bayi dan ancaman di sekitarnya. Lonjakan hormon seperti estrogen dan progesteron selama kehamilan diduga menjadi pemicu utama.

Untuk keluhan sehari-hari, faktor lain juga berperan: kurang tidur, kelelahan, stres, perubahan emosi, dan beban peran baru. Karena itu, sulit fokus pada masa hamil dan nifas kerap merupakan gabungan faktor biologis dan situasional.

Yang bisa dilakukan? Tidur sebisa mungkin cukup, misalnya dengan tidur saat bayi tidur pada masa awal. Catat jadwal dan tugas penting agar tak terlalu bergantung pada ingatan. Konsumsi makanan bergizi, termasuk asupan asam lemak omega-3 dan zat besi, serta berolahraga ringan sesuai anjuran dokter. Libatkan pasangan dan keluarga untuk berbagi beban.

Namun, bila keluhan disertai kesedihan mendalam, kecemasan berlebih, sulit merawat diri atau bayi, atau pikiran menyakiti diri, segera cari bantuan tenaga kesehatan. Kondisi tersebut bisa merupakan depresi atau gangguan kecemasan perinatal yang dapat ditangani.

Temuan riset ini mengajak masyarakat lebih empatik terhadap ibu hingga perubahan yang dialami nyata, wajar, dan bagian dari proses menjadi orang tua.

 

Artikel Terkait