Rutin Olahraga Bantu Tingkatkan Produktivitas Seseorang
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami hubungan antara kesehatan fisik dan menta
Pola asuh orang tua ke anak ternyata juga bisa berdampak buruk ke anak jika kurang tepat. Kebiasaan ini bisa mengakibatkan sang buah hati atau anak menjadi cemas dikemudian hari.
Dikutip dari Kompas.com Psikolog anak Dr. Amy Kincaid Todey mengatakan, orangtua biasanya melakukan berbagai hal demi memastikan anak tumbuh bahagia dan sukses. “Kamu mencurahkan cinta, sumber daya, dan energi untuk membentuk hidup mereka agar mereka bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan mampu menyesuaikan diri,” ujar Todey.
Jika terus didiamkan dapat berakibat buruk bagi sang anak. Akibatnya, anak mungkin takut mencoba hal baru atau membuat kesalahan karena khawatir dianggap tidak pintar. Oleh karena itu, para ahli menyarankan orangtua lebih menekankan pada usaha dan proses yang dilakukan anak, bukan hanya hasil atau kecerdasannya.
Kebiasaan pola asuh orang tua ke anak ini harus segera diubah agar kesehatan mental anak tetap terjaga. Berikut ini ada 5 kebiasaan orang tua yang tanpa disadari bisa menimbulkan kecemasan pada anak.
1.Melakukan sesuatu yang bisa dilakukan anak sendiri
Sebagian orangtua terbiasa membantu anak menyelesaikan berbagai hal, mulai dari merapikan barang hingga menyelesaikan tugas sederhana. Padahal, jika dilakukan terlalu sering, hal ini bisa membuat anak kurang percaya diri.
Menurut Todey, membantu anak secara berlebihan justru dapat menghambat perkembangan rasa kompetensi mereka. “Menyelesaikan tugas yang sebenarnya mampu dilakukan anak dapat secara tidak sengaja merusak rasa kompetensi mereka,” ujarnya.
2. Terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah
Melihat anak kesulitan atau hampir melakukan kesalahan sering membuat orangtua ingin segera turun tangan. Namun, terlalu cepat menyelamatkan anak dari masalah juga dapat berdampak negatif. Psikolog Dr. Dale Atkins, Ph.D. menjelaskan, kebiasaan ini dapat membuat anak merasa situasi sulit adalah sesuatu yang tidak mampu mereka hadapi.
“Menyelesaikan masalah dengan cepat, menjawab untuk anak, atau menghilangkan tantangan adalah upaya untuk mengurangi ketidaknyamanan. Namun hal ini dapat memberi sinyal bahwa situasi tersebut terlalu berat untuk ditangani anak,” kata Atkins.
3. Terlalu menekankan emosi
Kesadaran akan kesehatan mental membuat banyak orangtua lebih terbuka dalam membahas emosi anak. Hal ini tentu penting, tetapi jika dilakukan tanpa mengajarkan keterampilan mengelola emosi, justru bisa memperburuk kecemasan.
Todey menjelaskan, memvalidasi perasaan anak memang penting, tetapi memberikan penguatan secara berlebihan tanpa solusi dapat meningkatkan kecemasan. “Memvalidasi emosi anak memang penting, tetapi memberikan jaminan berlebihan atau menghindari masalah dapat memperburuk kecemasan, terutama pada anak yang cenderung banyak berpikir atau khawatir,” jelasnya.
4. Terlalu mempersiapkan anak untuk semua kemungkinan buruk
Banyak orangtua mencoba mempersiapkan anak menghadapi berbagai kemungkinan sebelum menghadapi situasi baru, seperti hari pertama sekolah atau ujian.
Menurut Atkins, terlalu banyak persiapan bisa membuat anak fokus pada hal-hal yang berpotensi salah. “Bagi anak yang mudah cemas, persiapan berlebihan dapat memperbesar ketidakpastian dan memicu pola pikir yang terlalu membayangkan hal buruk,” tutur dia.
5. Melindungi anak dari emosi yang menyakitkan
Sebagian orangtua berusaha melindungi anak dari perasaan sedih atau pengalaman yang menyakitkan, seperti kehilangan hewan peliharaan atau konflik keluarga. Padahal, menghindarkan anak dari emosi tersebut dapat menghambat kemampuan mereka memahami dan mengelola perasaan.
Psikolog Dr. Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C mengatakan, anak sebenarnya sangat peka terhadap suasana di sekitarnya. “Anak-anak sangat peka. Ketika mereka merasakan kesedihan atau ketegangan di rumah tetapi diberi tahu bahwa semuanya baik-baik saja, hal itu justru menimbulkan kebingungan,” ujar Guarnotta.