Lolos UTBK! 3.196 Calon Mahasiswa Baru Diterima UNPAD dari Total 80.541 Peserta
UNPAD mencatat ada sebanyak 80.541 peserta yang mendaftar di SNBT 2026 dan masuk urutan ke-6 sebagai
Layanan perubahan iklim Copernicus Climate Change Service (C3S) mencatat pada Senin (21/7/2024) menjadi hari terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1940. Suhu rata-rata global pada Senin tercatat mencapai 17,15 derajat Celsius
Rekor tersebut mengalahkan suhu terpanas global sebelumnya pernah tercatat setahun lalu, 17,08 derajat Celsius pada 6 Juli 2023.
Selain itu, lembaga tersebut menemukan bahwa suhu global periode Juli 2023-Juli 2024 merupakan suhu tertinggi pernah tercatat.
Direktur Copernicus, Carlo Buontempo mengatakan, suhu rata-rata global bisa terus meningkat seiring menghangat iklim, dikutip dari The Guardian.
Kata Carlo Buontempo, ada kemungkinan suhu awal pekan ini bisa melampaui rekor hari Minggu karena gelombang panas terus berlangsung di seluruh dunia.
Tahun lalu, empat hari berturut-turut dari tanggal 3 Juli hingga 6 Juli, memecahkan rekor suhu terpanas sepanjang sejarah. Hal ini diakibatkan perubahan iklim imbas pembakaran bahan bakar fosil dan menyebabkan panas ekstrem di seluruh belahan Bumi utara.
Lembaga itu juga melaporkan, peningkatan suhu rata-rata global akibat musim dingin lebih hangat daripada biasanya di Antartika.
Sementara, musim dingin lebih hangat di Antartika akibat perubahan iklim dipicu berbagai aktivitas manusia.
Di sisi lain, suhu musim panas 2024 menjadi lebih tinggi karena El Nino di sejumlah wilayah, sehingga meningkatkan suhu global.
El Nino merupakan sirkulasi alami membawa suhu permukaan laut lebih hangat ke wilayah tropis Pasifik timur, dilansir dari NBC News.
Akibatnya, orang-orang di berbagai belahan dunia merasakan dampak panas ekstrem.
Ilmuwan iklim di University of Oxford, Nicholas Leach mengatakan, rata-rata rekor suhu global akan terus meningkat apabila semakin banyak gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer.
Menurutnya, suhu rata-rata global terus meningkat masih menjadi ancaman serius. Leach memperingatkan potensi peningkatan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat atau gelombang panas, seiring dengan pemanasan global.
“Yang perlu kita khawatirkan adalah potensi peningkatan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat atau gelombang panas yang terjadi seiring dengan pemanasan global,” jelas Leach, dilansir dari The New York Times.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Climate Resilience for All, Kathy Baughman McLeod memaparkan, Juli 2024 kemungkinan menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah pernah tercatat.
Bahkan apabila El Nino digantikan La Nina pada akhir 2024, Bumi masih akan mengalami suhu panas dahsyat.(*)