Charles Honoris Tekankan Peran Krusial BGN dalam Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
Program MBG adalah upaya strategis pemerintah untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang seh
Tahukah anda jika tarif KRL Jabodetabek ternyata lebih murah dengan harga tarif KRL di Jogja-Solo. Perbedaan harga ini membuat pengamat transportasi mengusulkan kenaikan harga tarif KRL Jabodetabek. Usulan kenaikan harga tarif ini juga nantinya akan dipergunakan untuk mendukung fasilitas kereta-kereta di daerah.
Melansir dari liputan6.com Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyebut harga tarif angkutan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek sudah perlu penyesuaian. Menurutnya, masyarakat dan juga pengguna KRL tidak akan keberatan jika ada kenaikan tarif dengan tujuan tertentu.
"Sejak 2018 itu sudah ada usulan untuk penyesuaian tarif. Toh KRL di Jogja-Solo lebih mahal daripada yang Jakarta loh, itu enggak apa-apa. Artinya begini, penyesuaian tarif tetapi dengan catatan kelompok tertentu itu tidak naik," kata Djoko Setijowarno.
Sebagai contoh, Djoko mengambil ada 15 golongan yang gratis menggunakan transportasi umum di DKI Jakarta. Skema serupa, menurut dia, bisa diterapkan untuk penumpang KRL Jabodetabek.
"Tinggal nanti yang UMR-nya berapa? Apakah kalau gaji diatas Rp 6 juta (per bulan) tidak perlu naik? Ya bisa saja diatur. Tapi yang di atas itu ya enggak apa-apa, cuma naik 500 rupiah," jelas Djoko.
Lebih lanjut, Djoko juga mengatakan bahwa dirinya pernah melakukan survei kenaikan tarif KRL Jabodetabek pada beberapa tahun lalu. Hasilnyapun cukup mengejutkan, masyarakat pengguna KRL tak keberatan untuk adanya kenaikan. Pertimbangan lainnya, pengguna KRL Commuter Line di akhir pekan didominasi keperluan hiburan.
"Mereka enggak masalah kok. Karena KRL itu hari Sabtu itu yang komuter itu hanya 5%, hari Minggu hanya 2%. Sabtu Minggu hari libur, gausah mensubsidi enggak apa-apa, lumayan, uangnya itu kan bisa menghemat (subsidi)," tuturnya.
Djoko pernah mengusulkan tarif dasar KRL Jabodetabek naik menjadi Rp 5.000 untuk 25 kilometer (km) pertama. Saat ini, tarif berlaku adalah Rp 3.000 untuk skema yang sama.
Menurut dia, kenaikan tarif bisa saja dilakukan secara bertahap. Bisa dibilang, hal itu membuat masyarakat tidak kaget atas perubahan tarifnya. Dia turut mengamini adanya peningkatan fasilitas di stasiun maupun rangkaian kereta.
"Kalau pelan-pelan dinaikkan Rp 500, 6 bulan Rp 500, enggak terasa kan? Di Jawa Tengah juga mau, harus berani lah," ucap dia.
Kenaikan tarif KRL secara bertahap bisa menghemat subsidi yang diberikan pemerintah. Kenaikan ini nantinya juga untuk mendukung sarana KRL di daerah yang masih terbatas. Adapun, besaran subsidi untuk angkutan KRL Jabodetabek mencapai sekitar Rp 1,6-1,8 triliun per tahun untuk membayar 60-65% dari tarif asli.