Kartini Media

Mengenal Quarter Life Crisis dan Dampaknya ke Kehidupan

Quarter life crisis biasanya dialami oleh mereka yang memasuki usia 20 hingga 30 tahun. Bingung dan gelisah dalam menjalani kehidupan dan mencari tujuan adalah dampaknya.

Mengutip Mind Body Green, quarter life crisis dipengaruhi oleh stres dan ketidakpastian dalam memahami diri sendiri. Psikolog perkembangan, Erik Erikson menganggap usia 20 hingga 30 tahun adalah fase kedua.

Pada fase pertama dalam rentang usia 12 hingga 18 tahun, biasanya orang akan masuk dalam tahap bertanya. Pertanyaannya seputar 'Siapa saya?' dan 'Saya bisa menjadi apa?'.

Setelah itu barulah memasuki quarter life crisis, di mana pola pikir terhadap diri sendiri mulai kritis. Sebagian orang mulai bertanya-tanya mengenai diri sendiri dan apa yang bisa dilakukan,.

Mereka yang mengalami krisis perempat baya ini bisa jadi terjebak secara pribadi. Sebagian menganggap fase ini sebagai saat terbaik dalam hidup melewati tekanan dan bergulat dengan diri sendiri.

Masa quarter life crisis bisa berlangsung dalam beberapa tahun. Perlu waktu yang cukup untuk orang pertama kali menyadari jika ada yang salah dalam hidup. Orang juga akan mencari cara untuk menjalani kehidupan sebagai orang dewasa.

Ketika ada dalam fase quarter life crisis, orang juga kerap berlaku impulsif. Biasanya seperti membenci pekerjaannya sendiri. Kadang merasa butuh perubahan dalam hidup, tapi tidak tahu dengan cara bagaimana.

Quarter life crisis bisa juga ditandai dengan munculnya rasa insecure. Kondisi ini bagian dari kebingungan orang dewasa muda yang mencoba memahami fase hidup dirinya. 

Terkadang muncul rasa takut, malu, dan emosi negatif lainnya. Biasanya kondisi itu dipicu perbandingan dengan orang lain yang berakibat mengurangi rasa percaya diri dan tak nyaman menjalani hidupnya.

Artikel Terkait