MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
ChatGPT, chatbot kecerdasan buatan (AI) begitu populer bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Sekarang para dokter menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT untuk menyampaikan berita menyedihkan kepada pasien.
Bagi dokter menyampaikan berita buruk kepada pasien setiap hari merupakan pekerjaan menantang.
Akibatnya, mereka mungkin terlihat kurang berbelas kasih karena sering menghadapi kematian, dan menangani pasien dengan penyakit kritis.
Menurut The New York Times, para dokter sekarang menggunakan chatbot bertenaga AI untuk menyampaikan berita sulit kepada pasien dengan cara penuh kasih.
Produk chatbot OpenAI mendapat popularitas setelah dirilis November 2022, dan menjadi alat berharga bagi para dokter karena bisa menjalin hubungan lebih baik dengan pasien mereka.
Peter Lee, Wakil Presiden Korporat untuk penelitian dan inkubasi di Microsoft, seorang investor di OpenAI, mengakui kontribusi signifikan chatbot memungkinkan komunikasi lebih baik antara dokter dan pasien.
Laporan tersebut menyatakan beberapa dokter menggunakan chatbot, ChatGPT, segera setelah 72 jam dirilis ke publik.
Khususnya, ChatGPT menunjukkan pengetahuan medis mengesankan dan ada bukti menunjukkan bahwa hal tersebut bisa meningkatkan kemampuan dokter memberikan perawatan penuh kasih.
Para peneliti dari University of California di San Diego melakukan penelitian dimana para ahli medis membandingkan respons ChatGPT dan dokter manusia terhadap pertanyaan pasien.
Temuan tersebut mengungkapkan bahwa tanggapan chatbot tidak hanya berkualitas lebih tinggi tetapi juga lebih berempati dibandingkan dengan tanggapan dokter manusia.
Rata-rata, jawaban chatbot dinilai tujuh kali lebih berempati daripada jawaban dokter.
Dalam 78,6 persen dari 585 skenario disajikan selama penelitian, para ahli medis lebih memilih respons chatbot AI daripada dokter, yang menunjukkan potensi chatbot merevolusi interaksi dokter dan pasien.(*)