MBG di Tomohon Dorong Kualitas Generasi Muda dan Dampak Positif bagi Masyarakat Lokal
Gizi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi
Aktivitas berkebun memiliki banyak manfaat bagi kesehatan mental. Bahkan, manfaatnya bisa dirasakan pada seseorang yang baru memulai berkebun atau satu kali mencoba.
Resep Berkebun
Berkunjung ke dokter, identik dengan resep obat. Namun, tidak demikian mengunjungi dokter di Manchester, Inggris. Hampir semua dokter di Inggris lebih dahulu 'meresepkan' terapi berkebun bagi pasien yang mengalami gangguan kecemasan, kesepian, hingga depresi.
Terapi tidak hanya dilakukan mereka yang memiliki lahan luas di rumah. Pengobatan yang diluncurkan Cornbook Medical Practice (CMP)ini ditujukan bagi pasien yang tinggal di apartemen dan tidak memiliki akses ke kebun atau tanaman hijau.
Tim dokter meminta pasien membeli tanaman hidup berupa tanaman herbal, bumbu dapur, atau tanaman hias dalam pot.
"Tanaman yang kami berikan adalah bumbu dapur seperti lemon balm dan catmint, semuanya membutuhkan perhatian. Memiliki sesuatu untuk dirawat membawa banyak manfaat bagi orang, terutama bagi yang tidak memiliki akses menuju kebun atau tidak dapat memiliki hewan peliharaan," kata sekretaris CMP, Augusta Ward, dikutip dari Metro.
Manfaat Berkebun
Ward menjelaskan merawat tanaman tak hanya membuat seseorang memiliki kegiatan dan membuat pikiran serta hati menjadi tenang. Dalam jangka panjang, memiliki kesenangan berkebun berpotensi menambah teman lewat kegiatan komunitas.
Manfaat berkebun tidak hanya dirasakan bagi pasien mengalami gangguan kecemasan, kesepian, hingga depresi. Orang sehat juga bisa merasakan manfaat berkebun.
"Studi kami menunjukkan, orang sehat juga dapat mengalami peningkatan kesejahteraan mental,” demikian diungkapkan Charles Guy, profesor emeritus di Departemen Hortikultura Lingkungan di Universitas Florida.
Hasil Penelitian
Hasil studi mengungkapkan perempuan yang menghadiri kelas berkebun dua kali seminggu memiliki penurunan tingkat stres, kecemasan sampai depresi.
Penelitian ini diterbitkan di jurnal PLOS ONE, 6 Juli 2022 melibatkan 32 perempuan berusia 26-49 tahun. Semua partisipan dikategorikan orang sehat, tidak sedang pengobatan gangguan mental atau menderita penyakit kronis lainnya.
Setengah dari perempuan menghadiri sesi berkebun, sementara setengah lainnya mengikuti kelas seni yang disediakan.
Antara kegiatan berkebun dan seni yang dilakukan partisipan melibatkan pembelajaran berupa materi, perencanaan, kreativitas, aktivitas fisik.
"Ini membuatnya menjadi sebanding secara ilmiah. Daripada harus membandingkan aktivitas berkebun dengan main bowling atau berkebun dengan membaca," jelas Guy.
Tim peneliti menemukan, mereka yang mengikuti kelas berkebun mengalami peningkatan kesehatan mental dari waktu ke waktu.
"Studi dalam skala besar dapat mengungkapkan lebih banyak fakta bagaimana berkebun punya keterkaitan dengan perbaikan kesehatan mental," imbuh Guy.
"Di akhir studi, banyak peserta yang mengaku tidak hanya menikmati sesi berkebun. Tetapi juga mereka ingin tetap berkebun," kata Guy.(*)